Topik : 

Mudik Sesungguhnya

Kontributor : JT Editor: Redaksi
DelikNTT.com
download 2
Gambar: Istimewah

Oleh: Jailani Tong, M.Pd / Dosen STAI Kupang

Delikntt.ComSudah menjadi tradisi masyarakat Indonesia, ketika ramadhan akan berakhir, maka akan bergegas dan bersiap-siap untuk melangsungkan mudik.

Mudik dalam pengertian balik ke kampung halaman untuk bertemu dengan saudara, teman, anak dan orang tua. Biasanya ketika hendak melaksanakan mudik, maka akan dipersiapkan segala sesuatu dengan baik, mulai dari persiapan pembelian tiket, oleh-oleh buat keluarga dan bekal buat selama perjalanan.

Mudik sesungguhnya

Ulama-ulama sufi membagi mudik kedalam dua hal, yaitu mudik fisik dan mudik rohani.
Mudik fisik adalah kembalinya seseorang dari tempat bekerja atau tempat ia beraktivitas menuju kampung halamannya di mana ia dilahirkan untuk berjumpa dengan seluruh keluarga. Mudik ini bisa kita lihat setiap kali menjelang akhir ramadhan atau memasuki lebaran.

Sedangkan mudik ruhani adalah kembalinya seseorang kehadirat Allah untuk mempertanggungjawabkan segala bentuk amal perbuatan yang telah diperbuat semasa hidupnya. Inilah hakikat mudik yang sesungguhnya dan perlu menyiapkan bekal sebanyak mungkin dan sungguh-sungguh, terlebih di bulan ramadhan bulan yang Allah balas satu kebaikan dengan pahala yang berlipat ganda.

Jika mudik fisik, kita menyiapkan bekal dengan sebaik mungkin, kenapa kita tidak menyiapkan bekal lebih baik lagi untuk mudik yang sesungguhnya yaitu kematian. Bukankah kematian itu adalah hal yang pasti dan tidak ada yang dapat lari darinya.

Sebagaimana firman Allah, “Tiap tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”. (QS Ali Imran : 185).

Ayat yang lain, Allah berfirman “Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati pula”. (QS Az Zumar : 30).

Dari kedua ayat di atas, dapat dimaknai, bahwa kematian akan datang menghampiri semua makhluk yang bernyawa dan sesungguhnya kehidupan di dunia hanyalah kesenangan yang fatamorgana.

Baca Juga :  Puasa Plastik

Ramadhan sebentar lagi pergi meninggalkan kita semua dan akan kembali lagi satu tahun berikutnya. Tidak ada satupun manusia yang dapat memastikan dirinya bakal kembali berjumpa dengan ramadhan berikutnya, bahkan nabi Muhammad dan para sahabatnya pun tidak dapat memastikan dirinya akan berjumpa dengan ramadhan, jika bukan karena Allah. Oleh karena itu, biasanya diakhir ramadhan para sahabat menghisap segala amal perbuatannya dan menangisi akan segala dosa yang telah mereka perbuat, walaupun mereka telah dijamin masuk syurga.
Wallahu a’lam

  • Bagikan