Jagalah Raja Diri: Sebuah Renungan

DelikNTT.com
images 20 2
images 20 2

 

lingkartiga.online – Jagalah raja diri yang mentabir segala rakyatnya, 
Hati namanya, 
 
Baik raja, baiklah rakyatnya, 
Jahat raja, jahat lah rakyatnya, 
Suluhlah hati hingga ke dasarnya. 
 
 
Bersihkan mazmumahnya hingga dia menjadi murni, 
Ia akan memancarkan cahaya hidayah ilahi, 
Memenuhi seluruh anggota, hingga ke seluruh kehidupan. 
 
Jangan hitamkan hati, 
Kita akan kehilangan cahaya hidayah, 
Fisik akan hidup terombang ambing di dalam kegelapan. 
 
Tanda hati itu hitam ada tiga perkara:
Tidak terkejut dengan dosa-dosa, 
Tidak menjadikan hati tempat ketaatan, dan
Tidak menjadikan tempat menerima nasihat. 
 
Jika lahir dan batin sama saja ketaatannya, adil namanya, 
Jika yang batin lebih bersih dari yang lahir, keutamaan namanya, 
Tapi, jika yang lahir nampak bersih, dalamnya kotor, fasik dan durhaka, 
 
Kalau dibiarkan berterusan ini akan membawa kepada nifak, 
Jagalah hati dan bersihkan dengan sungguh-sungguh, 
Jangan sampai pintunya telah tertutup rapat, 
Untuk menerima segala kebaikan. 
 
Karya; Abuya Syeikh Imam Ashaari Muhammad At Tamimi dalam bukunya yang berjudul “Mengenal diri melalui rasa hati”.
 
 
Dari renungan ini memberikan sebuah gambaran kepada kita semua bahwa betapa susahnya menjaga hati. Sebab, ia raja dalam diri manusia.
 
Hati, disebutkan sentuhannya tidak terasa, tapi bekasnya sangat terasa hingga meninggalkan dendam yang mendalam. 
 
Jika yang diberi makan hanyalah dunia semata, tentu ia akan kehilangan cahaya. Sedangkan cahaya adalah petunjuk jalan agar seseorang bisa sampai di tempat tujuan dengan selamat. 
 
 
Saat ini krisis paling parah yang sedang terjadi di seluruh dunia adalah krisis moral dan akhlak. Buktinya banyak yang hilang kasih sayang, saling caci maki, menghujat, dan saling menghina. 
 
Orang-orang hidup bersama tapi seperti hilang rasa kebersamaan itu. Hal ini karena tak bisa menjaga hati dengan baik. 
 
Orang miskin tidak redha dengan kemiskinannya, rakyat tidak puas dengan pemimpinnya, dan kadangkala pemimpin merasa paling benar, sehingga tidak dapat mengevaluasi dirinya sendiri. 
 
 

Baca Juga :  Khutbah Jum'at: Valentine's Day dalam Pandangan Agama Islam
  • Bagikan