Tahapan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah

Kontributor : JT Editor: Redaksi
DelikNTT.com
Gambar 1 Sasaran Pendidikan Moral
Gambar: Istimewah

Oleh: Jailani Tong, M.Pd. / Dosen STAI Kupang

DelikNTT.Com – Menurut Lickona bapak pendidikan karakter modern, memberikan pandangan tentang internalisasi pendidikan karakter di sekolah sebagai upaya untuk mewujudkan generasi Indonesia yang memiliki akhlak mulia, maka sekolah perlu mengetahui dan melakukan tiga tahapan strategi, berikut ini:

Pertama, moral knowing

Tahapan ini merupakan langkah pertama yang harus dilaksanakan dalam mengimlementasikan pendidikan karakter. Pada tahap ini siswa diharapkan mampu menguasai pengetahuan tentang nilai-nilai. Siswa diharapkan mampu membedakan nilai-nilai dalam akhlak mulia dan akhlak tercela, siswa diharapkan mampu memahami secara logis dan rasional tentang pentingnya akhlak mulia, dan siswa juga diharapkan mampu mencari sosok figur yang bisa dijadikan panutan dalam berakhlak mulia, misalnya Rasulullah Saw, orang tua di rumah, dan atau guru di sekolah. Bukan figur-figur yang selalu hadir menghiasai layar televisi dengan berbagai macam kontroversinya. Namun, sebaik-baiknya figur adalah Rasulullah Muhammad Saw.

William Kalpatrick menyebutkan bahwa moral knowing sebagai aspek pertama memiliki enam unsur, yaitu:

1). Kesadaran moral (moral awareness);

2). Pengetahuan tentang nilai-nilai moral (knowing moral values);

3). Penentuan sudut pandang (perspective taking);

4). Logika moral (moral reasoning);

5). Keberanian mengambil atau menentukan sikap (decision making);

6). Pengenalan diri (self knowledge)

Keenam unsur ini adalah komponen-komponen penting yang harus diajarkan oleh lembaga pendidikan dalam hal ini guru-guru di sekolah kepada siswa untuk mengisi ranah pengetahuan atau kognitif mereka. Dengan demikian siswa dapat memahami apa itu nilai-nilai moral dan juga dapat membedakan mana yang baik dan sebaliknya, mana yang buruk.

Kedua, Moral Feeling atau Moral Loving

Tahapan ini dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa cinta dan rasa butuh terhadap nilai-nilai akhlak mulia. Dalam tahapan ini yang menjadi sasaran guru adalah dimensi emosional siswa, hati, dan jiwa siswa. Guru berupaya menyentuh emosi siswa sehingga siswa sadar bahwa dirinya butuh untuk berakhlak mulia. Melalui tahap ini siswa juga diharapkan mampu menilai dirinya sendiri atau instropeksi diri.

Baca Juga :  Fungsi ICT di Dunia Pendidikan
  • Bagikan