OPINI, DELIKNTT.COM – Kepada Yang Terhormat Bapak Abdul Mu’ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, bersama jajaran pimpinan Kemendikdasmen. Perkenankan saya, seorang anak muda dari Indonesia Timur, menulis surat terbuka ini. Saya mengundang Bapak beserta jajaran kementerian untuk datang dan melihat lebih dekat kehidupan kami, masyarakat Indonesia Timur yang kental dengan kearifan lokal dan semangat keberagaman. Lebih dari sekadar formalitas, undangan ini datang dari hati yang rindu agar Indonesia Timur dilihat bukan sebagai ujung atau pinggiran, melainkan sebagai bagian yang setara dalam mozaik kebhinekaan Indonesia. Kami, masyarakat Timur, hidup dengan filosofi yang kaya, menyatu dalam kebudayaan yang berakar kuat, yang saya yakin berharga dan relevan jika dijadikan basis bagi pendidikan kita.
Bapak Menteri, jika ada satu hal yang ingin kami sampaikan, itu adalah keinginan agar pendidikan nasional kita tidak sebatas adaptasi konsep dari luar, tetapi hadir dari inti dan jiwa Indonesia sendiri, termasuk dari budaya-budaya Timur. Bagi kami, sekolah bukan sekadar ruang kelas atau kurikulum yang diimpor dari pusat, tetapi adalah tempat dimana anak-anak bisa mengenal diri, lingkungannya, dan akar kebudayaan mereka. Seperti yang kita tahu, ada pepatah yang mengatakan, “Hidup adalah belajar, dan belajar adalah hidup.” Di sini, belajar adalah proses yang alami—terjadi di ladang, di laut, dan di jalanan kampung. Kami berharap pendidikan nasional dapat lebih mengakomodasi cara belajar yang seperti ini, mengintegrasikan pengetahuan lokal agar anak-anak kita tidak hanya pintar di kertas ujian, tetapi juga cerdas dalam kehidupan nyata.
Saya tidak menutup mata, Bapak, bahwa standar pendidikan yang dibangun pemerintah memang penting untuk menjaga kualitas. Tetapi, apakah sistem yang ada saat ini benar-benar memperhatikan potensi lokal? Banyak dari kami merasa pendidikan nasional cenderung memaksa kami untuk meninggalkan identitas, seolah harus berubah demi memenuhi standar yang tidak benar-benar kami pahami atau rasakan manfaatnya. Pendidikan seharusnya tidak memaksa anak-anak kami untuk menjadi sesuatu yang mereka tidak kenali, tetapi membantu mereka memahami siapa mereka sebenarnya dalam konteks budaya dan lingkungan mereka sendiri.
Bapak Menteri, dalam filosofi hidup masyarakat Timur, ada yang namanya “adat basudara” dan “gemohing,” yang berarti setiap manusia adalah keluarga dan harus saling membantu. Konsep ini lebih dari sekadar nilai, ini adalah cara hidup. Mengapa tidak, misalnya, memasukkan konsep ini dalam pendidikan karakter di sekolah? Bukankah semangat gotong royong dan persaudaraan adalah hal yang begitu Indonesia, begitu dekat dengan inti budaya kita? Bayangkan jika setiap anak Indonesia, dari Sabang hingga Merauke, mengenal dan menghidupi filosofi ini, maka tidak akan ada lagi sekat antardaerah, tidak akan ada lagi prasangka atau sikap diskriminatif di antara kita.
Namun, sayangnya, saat ini pendidikan di Indonesia Timur sering kali terpinggirkan. Infrastruktur yang minim, akses guru yang terbatas, serta kualitas sarana belajar yang tertinggal, adalah kenyataan pahit yang masih kami hadapi. Jika Bapak Menteri dan jajaran mau datang langsung, maka Bapak akan melihat dengan mata kepala sendiri kondisi sekolah-sekolah di pelosok kami. Ini bukan lagi soal statistik atau laporan semata, tetapi fakta bahwa Indonesia Timur juga berhak mendapatkan akses pendidikan yang setara, layaknya anak-anak di Pulau Jawa atau Sumatra.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp DelikNTT.COM
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.






