Rumah Sebagai Tempat Pendidikan Karakter

Kontributor : JT Editor: Redaksi
DelikNTT.com
slide 2
Gambar: Istimewah

Penulis: Jailani Tong, M.Pd

Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Kupang

Delikntt.Com Pendidikan karakter akhir-akhir ini menjadi trand isu yang sangat menarik, pasalnya sejak 2010, lewat perayaan hari pendidikan nasional, pendidikan karakter mendapatkan perhatian kembali. Hal tersebut bukan tanpa sebuah alasan, melainkan karena bangsa kita sedang dirundung musibah yang sangat besar yakni generasi muda, pejabat publik hingga orang tua mengalami apa yang namanya degradasi moral (krisis moral).

Pendidikan dan karakter adalah dua hal yang berbeda. Secara etimologi pendidikan berasal dari kata didik dan mendapatkan imbuhan dan akhiran (pe-an) menjadi kata pendidikan.
Pendidikan dalam arti yang sederhana adalah mengubah yang tidak tau menjadi tau.

Secara terminologi pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan baik sengaja mau pun tidak sengaja oleh seseorang untuk mencapai sebuah pengetahuan atau perubahan tingkah laku. Sedangkan karakter adalah sifat bawaan seseorang yang melekat pada dirinya sejak lahir. Dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter adalah sebuah usaha secara konsisten yang dilakukan oleh seseorang untuk merubah sifat, perilaku dan watak untuk menjadi manusia yang berakhlak mulia sebagaimana tujuan pendidikan yang tercermin dalam UU SISDIKNAS.

Urgancy Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter bukanlah sesuatu yang baru bagi bangsa Indonesia, pasalnya sejak
bangsa ini dimerdekakan para pendiri telah meletakan karakter sebagai salah satu unjung tombak membangunan bangsa Indonesia, hal tersebut dapat kita ketahui melalui sebuah istilah yang sudah tak asing lagi yakni “Nation and Character Building” Negara dan pembangunan karakter. Sepertinya para pendiri bangsa kita sudah mengetahui bahwa kedepannya bangsa ini akan diperhadapkan dengan krisis moral yang berkepanjangan hingga mingikis moral para penerus bangsa. 

Baca Juga :  Integrasi Nilai dalam Pola Asuh Keluarga

Ketakutan yang dikhawatirkan oleh para founding father saat itu terbukti hari ini. Krisis
moral yang dialami bangsa Indonesia sungguh sangat memperihatinkan. Mulai dari kasus korupsi, pembunuhan, plagiarisme, tawuran, miras, perselingkuhan, guru melalukan tindakan pencabulan terhadap murid dan sebaliknya murid mencabut nyawa guru, sebagaimana yang terjadi di Madura beberapa bulan yang lalu. Kejadian yang terbaru di Bengkulu, bola mata guru sampai rusak karena dikatepel oleh orang tua siswa karena anaknya ditegur saat merokok, selain itu, di Kalimantan Selatan, seorang siswa menikam kawan kelasnya, karena faktor selalu mendapatkan billy di sekolah.

Mereka yang terlibat dalam kasus amoral tersebut adalah alumni pendidikan dan juga masih menjadi peserta didik. Syafi’i Maarif perna menulis di Republika, bahwa alumni haji yang berada di kursi Dewan pun tidak bisa mencegah tindakan korupsi.

Wajah Bangsa Indonesia

Pasca bangsa Indonesia mengalami reformasi, tidak dapat kita pungkiri bahwa telah banyak capaian yang telah dicapai baik itu dalam hal ekonomi, politik, budaya dan juga
termasuk pendidikan. Namun disamping itu juga bangsa indonesia semakin mengalami kemundurun terutama dalam hal karakter.

  • Bagikan