Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Topik : 

PRABOWO BERTAHAN, GANJAR SEIMBANG, ANIES ATTRAKTIF (Catatan Debat Ke-3)

Reporter : M. Nabil Kalabe’en Editor: Redaksi
debat 3

Serangan attraktif Anies membuat Prabowo seolah semakin kewalahan, pada sesi tanggapan dan tanya jawab. Dalam situasi terdesak, Prabowo berusaha untuk merangkul Ganjar dengan mengatakan bahwa dirinya memiliki kesamaan, ‘mungkin satu buku dan satu perguruan’. Pada momen ini, Prabowo betul-betul kehilangan pijakan logisnya sehingga tak bisa membangun argumentasi yang memadai. Alhasil, Prabowo kelihalangan kesempatan untuk membalikkan situasi dan yang muncul justru kata-kata yang aneh: ‘omon-omon’, ‘profesor’, dst.

Scroll kebawah untuk lihat konten
WhatsApp Image 2025 05 31 at 18.15.04
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Pertahanan Prabowo pada akhirnya jebol juga kendati telah menyusun sistem ‘gerendel’ ala catenaccio seperti dalam sepakbola Italia. Kebobolan tersebut terjadi ketika serangan tidak hanya dilakukan oleh Anies tetapi juga Ganjar. Ketika mendapatkan momentum, Ganjar tak menyia-nyiakannya dengan melakukan serangan mendadak terhadap pertahanan Prabowo.  

Dengan jumawa, Ganjar menantang agar data-datanya dibantah dengan data tandingan, serta mempersilahkan staf Prabowo untuk maju ke depan, mendampinginya. Menurut Ganjar, dalam 4 tahun terakhir penilaian dari lembaga-lembaga internasional terhadap pertahanan dan kemampuan militer Indonesia terjun bebas. Itu semua, demikian Ganjar, karena Kemenhan tidak melakukan perencanaan secara bottom up melainkan top down. Pada momen ini, Ganjar seolah mencetak gol secara dramatis di menit-menit akhir yang membuat para pendukungnya bertepuk sorak. 

Di luar dugaan, Prabowo tampak kewalahan dalam debat kali ini. Serangan bertubi-tubi yang dilancarkan Anies dan juga Ganjar membuatnya seolah lupa cara bertahan dengan baik. Ia sepertinya tidak datang ke arena dengan persiapan yang betul-betul matang. Sebagai orang pertama di Kemenhan dalam 4 tahun terakhir, mungkin dirinya merasa menguasai seluruh hal dan dengan mudah dapat mematahkan serangan lawan-lawannya. Namun dalam kenyataannya justru terbalik. Sebagai lawan yang tak diunggulkan, Anies dan Ganjar betul-betul datang dengan persiapan sangat memadai, setidaknya terlihat dalam dinamika debat selama 2 jam.

Baca Juga :  Indonesia "Memang" Perlu Perubahan Menyeluruh dan Mendasar

Dalam panggung debat ke-3, tersaji tiga Capres dengan tiga karakter yang saling berlawanan. Anies Baswedan menampilkan kepribadian dengan karakter intelektual, penuh pesona, dan keluwesan berpadu jiwa teknokratik yang tak ada bandingannya. Datang dari keluaraga pahlawan, Anies menampilkan gestur intelektual organik, erudisi dan narasinya sangat dalam, serta memiliki keluwesan dengan praktek politics of inclusion seperti diperlihatkan dalam  yang kepemimpinannya di DKI Jakarta. Kendati well educated, Anies tak pernah lupa mereka yang terpinggirkan, terutama kaum lemah dan tak mampu.

Prabowo Subianto adalah pribadi yang kompleks, menampilkan karakter ketegasan yang Berpadu dengan daya dobrak (meledak-ledak). Ia datang dari keluarga pejuang dalam pemberdayaan ekonomi rakyat dan ideologi sosialisme paradoks dengan latar kemiliteran berpadu ortodoksi Orde Baru. Dalam kategori ini, ia seolah berada dalam posisi antara dan dari kumpulannya sering kali terbuang. Keputusannya bergabung dalam Kabinet Presiden Joko Widodo—yang merupakan lawan tandingnya pada Pilpres 2019—semakin menegaskan “kompleksitas” dirinya. Keputusannya berduet dengan Gibran yang merupakan anak Presiden dengan “menerabas” etik publik dan kelaziman menjadikannya semakin penuh kontroversi.

Ganjar Pranowo adalah satu-satunya Capres yang dapat mewakili tradisi Jawa dengan sedikit pengecualian. Latar adat Jawa membuatnya memahami kesantunan. Datang dari trah keluarga priyayi yang diperkuat dengan pengalaman bergabung dengan partai terpinggirakan selama Orde Baru, membuatnya memahami arti jadi diri. Kepribadian yang demikian cocok untuk mengisi kepemimpinan yang disebut Bung Karno sebagai kepemimpinan “berdikari”, yaitu berdiri di atas kaki sendiri (berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi, dan berkepribadian secara kebudayaan).

Dari ketiga Capres dengan karakter masing-masing seperti di atas, siapa figur yang tepat yang dapat menyelesaikan beragam persoalan yang diidap oleh negeri ini? Tentu saja relatif sulit memutuskan mengingat krisis akut dan multidimensi negara kita seperti zaman aksial pra kenabian. Mendekati 14 Februari 2024 sebagai hari penentu, semoga para pemilih memiliki kearifan untuk memilih pemimpin dengan karakter yang tepat menghadapi sengkarut negara hari-hari ini. Wallahu a’lam bisshawab! [*] .

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp DelikNTT.COM

+ Gabung

  • Bagikan