Topik : 

Politik, Agama, dan Kekerasan

Kontributor : Jailani Tong Editor: Redaksi
DelikNTT.com
1690 Jangan Bawa Isu Agama dalam Kontestasi Politik

DelikNTT.Com – Indonesia merupakan negara majemuk yang di dalamnya hidup dan berkembang berbagai suku, bangsa, dan juga agama. Secara resmi, di Indonesia terdapat beberapa agama yaitu Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu. Di Indonesia, agama berperan penting sebagai panduan bagi masyarakat dalam menjalani hidup dan kehidupan.

Indonesia dikenal sebagai negara dengan budaya sopan santunnya, memiliki toleransi yang tinggi, dan juga memiliki sumber daya alam yang sangat melimpah, sehingga membuat seorang Koes Plus dengan penuh keyakinan dan percaya diri bermetafor dalam lagunya yang berjudul kolam susu bahwa “tongkat kayu dan batu jadi tanaman”.

Walaupun Indonesia telah memiliki modal dasar sebagaimana di atas, namun, berbagai macam konflik persoalan baik itu faktor internal maupun eksternal selalu datang merongrong bangsa Indonesia. Salah satu konflik yang sering terjadi adalah konflik kekerasan yang seringkali mengatasnamakan agama dan yang lebih parah dan membahayakan lagi, konflik kekerasan atas nama agama tersebut dikarenakan faktor politik dan itu terjadi secara massif dan terstruktur dalam satu kondisi tertentu.

Dalam sejarah panjang peradaban umat manusia, kasus kekerasan atas nama agama telah ada sejak lama dan telah menjadi bagian dalam sejarah yang masih bisa ditemukan pada manusia di era modern saat ini, termasuk di Indonesia yang konon katanya bangsa yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dan persaudaraan yang kemudian dikuatkan lagi dengan ikatan Bhinneka Tungga Ika.

Dalam sejarah Mesir Kuno, agama dan politik sangat erat kaitanya. Para Firaun dianggap sebagai dewa atau wakil dewa, dan mereka memiliki otoritas mutlak dalam semua aspek kehidupan, termasuk dalam urusan agama. Pemberontakan politik sering kali memiliki elemen agama, dan kekuasaan Firaun diperkuat oleh keyakinan akan hak ilahi mereka. Selain itu, hubungan antara politik, agama, dan kekerasan masih relevan di berbagai negara pada periode modern, dengan konflik seperti terorisme yang sering kali memiliki motivasi dan berhubungan dengan agama atau identitas agama. Demikian juga dalam sejarah Islam, pada masa Khalifah Ali Bin Abi Thalib, terjadi perang shiffin, mengutip dari Jurnal Penelitian Ilmu Ushuluddin, disebutkan bahwa permasalahan utama dalam terjadinya perang tersebut adalah motif politik kekuasaan yang berkaitan dengan kekhalifahan yang didalamnya dibumbui dengan motif agama.

Baca Juga :  Neokolonialisme

Agama dan politik, seringkali masih menjadi faktor utama pemicu terjadinya kekerasan. Agama dan politik sama-sama dapat membahayakan bagi keberlangsungan sebuah bangsa, jika disalah gunakan untuk sebuah kepentingan sesaat yang pragmatis.

  • Bagikan