Oleh: Fajri Romadhon, SH, M.H. (Dosen Fakultas Hukum UM Palembang & Ketua Forum Dosen Indonesia (ForDESI) Wilayah Sumatera Selatan)
DELIKNTT.COM – Tragedi politik dan kemanusiaan yang baru-baru ini terjadi di jalanan bangsa kita menyisakan luka mendalam. Seorang anak bangsa, Affan Kurniawan, ojek online yang sehari-hari mencari nafkah dengan peluh dan keringat, meregang nyawa bukan karena kesalahannya, tetapi karena brutalitas aparat negara yang seharusnya melindungi rakyat. Affan menjadi simbol betapa rapuhnya rasa keadilan di negeri ini. Jika aparat bisa begitu mudah melindas rakyat, maka pertanyaan mendasarnya adalah: masihkah negara ini berpihak pada warganya sendiri?
Fenomena ini tidak lahir di ruang hampa. Gelombang demonstrasi besar yang melibatkan mahasiswa, pemuda, dan masyarakat sipil merebak bukan tanpa alasan. Mereka turun ke jalan karena kekecewaan yang memuncak terhadap para pejabat negara, khususnya DPR RI, yang lebih sibuk menaikkan tunjangan ketimbang menuntaskan penderitaan rakyat. Dalam bahasa satir: polisi melindas rakyat di jalanan, sementara DPR melindas nurani di gedung megah Senayan.
Luka Kolektif dan Krisis Kepercayaan
Bangsa ini sedang menghadapi carut-marut persoalan. Ekonomi mencekik, harga kebutuhan pokok melambung, lapangan kerja semakin sempit. Namun, di sisi lain, berita korupsi pejabat negara seolah tak pernah berhenti. Rakyat kecil dipaksa menelan pil pahit krisis, sementara elit politik menelan manisnya tunjangan dan fasilitas negara.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp DelikNTT.COM
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.






