Oleh: Dr. Sholikh Al Huda, M. Fil. I / Dosen Filsafat Agama UM Surabaya
DELIKNTT.COM – Kalau dulu orang memilih jadi petapa biasanya pergi ke gunung, bawa tikar pandan, makan singkong rebus, dan berharap dapat wangsit. Sekarang? Tidak perlu susah-susah naik Semeru. Cukup di kamar kos, sambil rebahan, bawa HP, colokan penuh, paket data unlimited, lalu cling! lahirlah petapa digital.
Fenomena ini bukan mitos, Gus. Generasi Z—yang katanya paling “melek teknologi” dan “paling terkoneksi”—malah banyak yang hidup kayak pertapa. Bedanya, kalau pertapa klasik menolak dunia demi mencari pencerahan batin, petapa digital menolak dunia karena… yah, dunia nyata memang nyebelin.
Dunia Nyata: Terlalu Ribut dan Ribet
Mari jujur saja. Dunia nyata memang kadang bikin sakit kepala. Tugas kampus menumpuk, kerja freelance dibayar telat, keluarga cerewet soal “kapan nikah”, dan tetangga suka nanya “kok masih di rumah aja?” Belum lagi harga kos naik, harga nasi padang ikut-ikutan naik, sementara harga diri malah turun.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp DelikNTT.COM
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.






