Topik : 

Perbedaan Itu Indah: Mengapa dipersoalkan

Kontributor : JT Editor: Redaksi
DelikNTT.com
360117735 3545027335734500 5196347461022173017 n
Foto: Istimewah
Oleh: Jailani Tong, M.Pd. / Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Kupang

Delikntt.com – Setelah sebulan penuh kita dididik oleh Ramadan, kini saatnya ia akan pergi meninggalkan kita semua (umat muslim), entah kapan ia akan kembali lagi.

Kurikulum Ramadan telah membentuk kita menjadi manusia-manusia yang memiliki derajat ketakwaan. Takwa dalam pandangan Imam Al-Ghazali, yaitu, Pertama, takwa yang bermakna takut serta tunduk, Kedua, takwa yang bermakna mentaati dan beribadah, dan Ketiga, takwa yang bermakna membersihkan hati dari berbagai dosa. Jika diresapi secara mendalam makna takwa di atas tentu siapapun dia, terlebih pejabat publik, ia akan berpikir dua kali sebelum bertindak.

Perbedaan dalam penentuan 1 Ramadhan dan juga 1 Syawal bukan baru pertama kali terjadi, bahwa perbedaan yang itu adalah bagian dari Sunatullah yang mesti diterima dengan penuh keluwesan hati. Jika tidak, maka perbedaan akan berubah menjadi malapetaka.

Perbedaan di dalam Islam sudah sering terjadi, bahkan sejak dahulu. Jika kita membaca sejarah, bukankan para imam mahzab sering berbeda dalam pandangan agama bahkan perbedaannya sangat tajam, namun perbedaan tersebut justru dikelola dengan adab yang sangat tinggi yaitu dengan cara saling menghargai dan menghormati hingga tidak ada konflik diantara mereka. Ini adalah peradaban yang sangat luar biasa dan bukti bahwa perbedaan itu sangat Indah.

Seharusnya sejarah peradaban tersebut, menjadi pelajaran berharga bagi pejabat di bangsa ini dalam mengelola sebuah perbedaan, terutama dalam urusan keyakinan beragama. Di dalam konstitusi, telah diatur dengan baik, bahwa negara hadir untuk memberikan jaminan atas hak-hak setiap warga negara termasuk urusan melaksanakan ibadah sesuai dengan keyakinannya masing-masing, bukan sebaliknya.

Fasilitas Negara milik Warga Negara

Terlepas dari kedua oknum pejabat publik yang telah memberikan klarifikasi serta mengizinkan kepada warga negaranya untuk menggunakan fasilitas Negara sebagai tempat beribadah sholat idul fitri (21 April 2022), namun, di sisi lain, justru sangat disayangkan ketika hidup di Negara yang konon katanya “Indonesia” adalah negara “Bhinneka Tunggal Ika” (berbeda-beda tapi satu juga) justru dicederai oleh ulah oknum pejabat yang tak menjunjung tinggi nilai-nilai tersebut.
Baca Juga :  Bermuhammadiyah Jangan Jubriya
  • Bagikan