Topik : 

MAHFUD SANTAI, GIBRAN NO POINT, DAN CAK IMIN KURANG JENAKA

Editor: Redaksi
DelikNTT.com
Mahfud Santai
Gambar: Ilustrasi Calon Presiden 2024

Oleh: M. Nabil Kalabe’en (Pemerhati Musik Dangdut

Catatan Debat Kedua Pilpres 2024

DelikNTT.ComDebat kedua Pilpres 2024 yang mempertemukan para Cawapres, justru menghadirkan banyak kejutan daripada debat pertama. Kejutan yang paling mencolok adalah ‘sensasi’ yang dipertontonkan Gibran agar kelihatan seolah-olah menguasai panggung debat meski secara substansi ‘no point’. Sebaliknya, performa Mahfud MD sebagai Guru Besar tetap santai dengan kualitasnya yang tak diragukan lagi; dan tak seperti biasanya, Cak Imin tampil kurang jenaka padahal secara substansi penuh terobosan dan pencerahan.

Secara keseluruhan, debat memang berlangsung ‘panas’ dan ‘seru’ karena di luar dugaan, Gibran yang sebelumnya diremehkan banyak orang karena penuh ‘kontroversi’, justru sangat intimidatif, emosional, dan bahkan ‘culas’ terhadap kedua calon lain. Posisi dirinya sebagai anak Presiden dan tahu bahwa kedua lawan debatnya adalah anak buah dan pendukung Bapaknya, membuat arogansinya semakin menjadi-jadi. Untungnya, Mahfud meresponnya dengan gaya santai khas seorang profesor, dan kejujuran Cak Imin dalam menimpali yang tak mau membuat Gibran semakin emosional. 

Pada kesempatan pembuka, Mahfud fokus pada korupsi. Kesemrawutan masalah ekonomi dan segala hal yang menyertainya direduksi ke dalam masalah korupsi. Ia seolah-olah menjadi penyebab pertama dan utama yang membuat ekonomi negeri ini tidak bertumbuh, dan karena itu, Mahfud berjanji akan memberantasnya. Core dari Mahfud adalah pemberantasan korupsi.

Sedangkan Gibran tidak ada poin yang menjadi fokus utama karena menyampaikan hal yang sangat umum pada sesi awal. “Hilirisasi digital” yang tak ditemukan dalam disiplin ilmu mutakhir mana pun sempat singgungnya. Ia hanya menyampaikan keberlanjutan program Bapaknya. Core dari Gibran adalah mengikuti Bapaknya.

Cak Imin fokus pada soal ketimpangan. Ia mendiagnosis ketimpangan di negeri ini dengan dengan data yang memperlihatkan bahwa sebagian kecil orang menguasai sebagian besar sumber ekonomi nasional. Resepnya, ‘slepet’ sebagai penggerak awal perubahan dengan menaikkan pajak para kelas kaya, mengurangi pajak kelas menengah, dan membebaskan pajak kelas miskin. Bantuan usaha untuk para pemuda dan peningkatan anggaran dana desa menjadi pelengkapnya. Keadilan dan pemerataan adalah core dari Cak Imin.

Baca Juga :  Neokolonialisme

Arogansi Gibran mulai tampak pada sesi tanya jawab. Ketika ditanya soal trik dan tips bagaimana Solo bisa mendapatkan proyek nasional sehingga dapat ditiru para Wali Kota/Bupati daerah lain, ia justru tampak emosional. Ia menjawab ngelantur ke mana-mana tidak jelas poinnya dan justru menuduh Cak Imin tendensius.

  • Bagikan