Jadilah Instruktur Kehidupan tidak sebatas 6 hari, Tantangan di Luar Ruangan Perkaderan

Reporter : Jailani Editor: Redaksi
DelikNTT.com
Instruktur IMM Alor

Oleh: Mukmin Amsidi, M.Pd (Dosen STKIP Muhammadiyah Kalabahi)

DelikNTT.Com – Menjadi instruktur kehidupan adalah tanggung jawab yang jauh melampaui 6 hari perkaderan di dalam ruangan dengan penampilan yang rapi dan pidato yang berwibawa. Peran ini menuntut kesadaran diri, ketulusan, dan keteladanan yang konsisten dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari.

Seringkali, kita terjebak dalam ilusi bahwa penampilan dan kata-kata yang indah selama perkaderan sudah cukup untuk memberikan dampak yang signifikan. Namun kenyataannya, pengaruh yang sejati tidak diukur dari pidato yang memukau atau penampilan yang tanpa cela, melainkan dari tindakan nyata dan konsistensi dalam menjalani nilai-nilai yang kita ajarkan.

Ketika kita hanya fokus pada penampilan luar dan performa selama perkaderan, kita kehilangan esensi dari pembelajaran yang sejati. Peserta perkaderan akan dengan cepat menyadari ketidakkonsistenan antara apa yang kita katakan dan apa yang kita lakukan dalam kehidupan nyata. Ini bukan hanya merusak kredibilitas kita sebagai instruktur, tetapi juga menghambat proses pembelajaran mereka.

Sholat yang rajin dan sikap berwibawa memang penting, namun tidak boleh hanya dijadikan sebagai alat untuk menutupi kekurangan saat 6 hari saja. Kita harus berani dan terus konsisten melakukan sholat selama hidup, dengan mengakui bahwa kita juga manusia dengan segala keterbatasan. Dengan demikian, kita memberikan contoh yang lebih realistis dan inspiratif kepada peserta bahwa perjalanan menuju kebaikan adalah proses yang terus menerus dan penuh tantangan.

Instruktur seringkali terlihat rajin beribadah dan menjaga sikap berwibawa selama perkaderan, namun setelah periode tersebut berakhir, mereka mungkin menunjukkan kekurangan yang sebelumnya tidak tampak. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana kita bisa mengontrol pergerakan dan dampak dari perkaderan jika setelah enam hari, peserta mulai menyadari ketidakkonsistenan antara apa yang diajarkan dan apa yang dilakukan oleh instruktur dalam kehidupan nyata.

Sebagai instruktur kehidupan, integritas dan ketulusan menjadi nilai-nilai fundamental yang harus dipegang teguh. Hal ini tercermin dari nasihat bijak yang pernah diucapkan oleh Kkanda Sanusi, “Untuk apa mengatakan apa-apa yang tidak kamu perbuat? Sungguh besar kebencian Allah ketika apa-apa yang kau katakan tidak diperbuat.”

  • Bagikan