Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Indonesia Negara Pungli: Dari Sertifikat K3 ke Ducati

Editor: Redaksi
IMG 20250829 WA0013

Dalam kacamata Durkheim dan Merton, ini tanda anomi: aturan resmi (hukum) tidak lagi dihormati, digantikan aturan informal (pungli). Rakyat hanya ingin sertifikat kerja (tujuan sah), tapi harus pakai jalan tikus berupa pungli (cara tidak sah). Inilah bentuk innovation ala Merton: mengejar tujuan legal dengan cara ilegal.

 Dari Amplop ke QRIS, dari Sertifikat K3 ke Ducati

Ada candaan getir di media sosial: “Dulu pungli harus ada amplop tebal. Sekarang sudah pakai transfer, tinggal scan QRIS.” Artinya, modusnya makin modern, tapi esensinya tetap sama: ada pihak yang diperas, ada pihak yang kenyang.

Scroll kebawah untuk lihat konten
WhatsApp Image 2025 05 31 at 18.15.04
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Begitu pula rantainya: rakyat kecil harus setor untuk urus sertifikat K3 biar bisa kerja, sementara di ujung sana ada pejabat yang dengan enteng bisa beli Ducati buat mejeng di akhir pekan. Inilah konversi modal simbolik (jabatan) menjadi modal ekonomi (duit pungli), lalu dipamerkan jadi modal sosial (prestise motor gede). Lengkap sudah daur pungli ala Bourdieu.

 Refleksi Pahit Yang Terus Terulang

Kasus Noel seharusnya jadi momentum koreksi. Bukan cuma untuk kementerian tenaga kerja, tapi juga seluruh birokrasi negeri ini. Kalau pejabat setingkat wamen bisa tertangkap tangan, jangan salahkan rakyat kalau makin sinis dengan jargon “bersih, melayani, transparan.”

Baca Juga :  Catatan Politik Akhir Tahun 2025 ForDESI: Pilkada, Kedaulatan Rakyat, dan Godaan Demokrasi Elitis

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp DelikNTT.COM

+ Gabung

  • Bagikan