Dalam bahasa Bourdieu, ini sudah jadi habitus: cara berpikir dan bertindak yang terasa normal. Rakyat sudah terbiasa “ngasih uang rokok,” pejabat sudah terbiasa “menerima sebagai hak.” Akhirnya, praktik pungli bukan lagi kejahatan, tapi tradisi yang diwariskan. Bedanya, kalau pungli rakyat maksimal bikin dompet kempes 20 ribu, pungli pejabat bisa bikin garasi penuh moge Ducati.
Wamen Noel dan Ilusi Integritas
Kasus Noel membuat kita bertanya: untuk apa ada ribuan seminar anti-korupsi, slogan integritas di banner kementerian, sampai jargon “zona bebas pungli” kalau ternyata yang tergelincir justru orang dalam?
Di sini teori korupsi sistemik Michael Johnston terasa pas: pungli bukan soal individu nakal, tapi soal sistem yang sudah mapan. Dari birokrasi bawah sampai kursi kementerian, semua seperti bagian dari satu rantai. Makanya, publik jadi makin sinis—integritas pejabat seringkali hanya semanis baliho kampanye: bisa dipasang, bisa pula dilepas.
Negara Darurat Pemerasan
Kata “pemerasan” bikin telinga rakyat kebas. Karena sesungguhnya, bentuk pemerasan bukan hanya dalam arti hukum, tapi juga dalam keseharian. Rakyat diperas lewat pajak yang bocor, diperas lewat bansos yang dikorupsi, diperas lewat kebijakan yang cuma menguntungkan kroni.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp DelikNTT.COM
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.





