Topik : 

IMM dan Living Values

Kontributor : Muhammad Qorib Editor: Jailani Tong
DelikNTT.com
Muhammad Qorib

Oleh : Muhammad Qorib
(Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammaidyah Sumatera Utara dan Dekan Fakultas Agama Islam UM Sumatera Utara)

DelikNTT.Com – Nalar kita sering “terusik” ketika nama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) disebutkan. Terlebih saat lagu Mars IMM dikumandangkan, maka jiwa kita terasa dipapah dan langkah kita seolah dituntun untuk membuat syahadah (bukti) keagamaan, keumatan dan kemanusiaan. Tak terkecuali saat lagu Himne yang teduh merasuk jiwa. Spirit yang menggema membingkai sukma dan bertransformasi menjadi jangkar spiritual. Lirik-liriknya menyajikan manifesto kesejatian diri IMM sebagai salah satu akar tunggang gerakan pencerahan.

Mencermati Jati Diri

Kelahiran IMM merupakan kemestian sejarah. IMM memposisikan gerakannya sebagai lokomotif dimana living values (nilai-nilai kehidupan) dialokasikan ke dalam berbagai dimensi. Living values menjadi karakter dasar dan kekayaan moral tersendiri bagi IMM. Jika ditelisik secara jernih, living values terkandung di dalam maksud dan tujuan berdirinya IMM. Terdapat tiga hal penting yang dapat digarisbawahi dari maksud dan tujuan berdirinya IMM tersebut; pertama, terbentuknya para akademisi Islam; kedua, nilai-nilai keadaban; ketiga, kontinyuitas dakwah Muhammadiyah.

Akademisi Islam adalah komunitas terdidik, yaitu sebuah komunitas yang menempati puncak piramida sosial. Secara kuantitatif sangat terbatas, namun komunitas ini menjadi minoritas kreatif, yaitu sebuah komunitas dimana berbagai perubahan diri dan lingkungan digerakkan. Komunitas ini menjadi pengarah dan penentu mata rantai sejarah. Akademisi Islam senantiasa dalam semangat pemikiran dan gerakan yang bersifat islami. Siklus aktifitas yang dilakukan berangkat dari nilai-nilai luhur Islam dan bergulir seperti bola salju untuk membumikan nilai-nilai luhur tersebut dalam berbagai sudut kehidupan.

Akademisi Islam tidak saja memiliki kekayaan yang bersifat kognitif dan psikomotorik, namun juga afektif (baca: keimanan). Ketiga hal tersebut membingkai IMM sebagai kekuatan yang tak pernah lekang dengan godaan zaman. Kritik terhadap hegemoni kognisi direspons oleh IMM secara arif dan cerdas. Kognisi menempatkan seseorang di bawah mercusuar akal, namun kering rasa dan tidak peka atas berbagai perubahan. Sementara integrasi antara aspek kognitif, aspek psikomotorik, dan aspek afektif yang dimiliki IMM menjadi amunisi tersendiri untuk melahirkan manusia berkarakter. Kebrutalan perubahan tidak akan mengubah warna IMM dalam mencetak pribadi-pribadi tangguh jika aspek-aspek tersebut digenggam secara istiqomah.

Baca Juga :  Wajah Kusam Pendidikan Indonesia

Akhlak mulia menjadi danau moral tersendiri. Akhlak mengajarkan tata cara membangun dan mengembangkan berbagai relasi dengan baik. Akhlak mulia memintal relasi ketuhanan, relasi kemanusiaan, relasi kealaman dan relasi kedirian. Keempat relasi ini menumbuhkembangkan pribadi-pribadi yang luhur, yaitu pribadi-pribadi yang bercorak religius, cerdas, kritis namun juga santun. Apa artinya religiusitas namun minus kecerdasan. Apa pula artinya cerdas dan kritis namun tidak santun. Keempat living values itu menjadi nilai-nilai yang senantiasa hidup dalam pemikiran dan gerakan IMM.

  • Bagikan