Topik : 

Hilangnya Adab Bermedia Sosial #1

Kontributor : JT Editor: Redaksi
DelikNTT.com
Ilustrasi PositifMedsos
Gambar: Istimewah

DelikNTT.Com – Secara bahasa, adab berasal dari bahasa Arab yaitu Addaba – Yu’addibu – Ta’dib yang diartikan sebagai sebuah proses mendidik atau pendidikan. Jika dikaitkan dengan akhlak dapat diartikan sebagai budi pekerti, tingkah laku, perangai sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Islam adalah satu-satunya agama yang paling sempurna dalam mengatur segala urusan manusia, termasuk di dalamnya adalah bermedia sosial.

Manusia modern tidak bisa dipisahkan dari yang namanya media sosial. Media sosial tidak hanya sebatas alat untuk berkomunikasi dan mengakses informasi, akan tetapi juga dipergunakan dalam menyampaikan suatu gagasan dalam sebuah diskusi.

Kenyataan yang terjadi saat ini, kadang kala kita menemukan seseorang kehilangan adab bermedia sosial ketika terjadi perbedaan sudut pandangan, termasuk mereka yang berakal. Hal ini terlihat jelas pada diskusi panjang perbedaan 1 Syawal di Facebook yang berujung dengan nada ancaman pembunuhan terhadap warga Muhammadiyah.

Adab dan Ilmu Pengetahuan

Islam memandang adab lebih tinggi kedudukannya di atas ilmu pengetahuan. Hal ini tergambar dalam sebuah kalimat indah “Ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar, dan adab tanpa ilmu seperti jasad tanpa ruh” memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi tidak ada artinya jika tidak memiliki adab. Demikian halnya dengan Ilmu pengetahuan menjadi berbahaya bagi pemiliknya dan orang lain karena tidak memiliki adab.

Ibnul Mubarok berkata “kami mempelajari adab selama 30 tahun dan mempelajari ilmu selama 20 tahun”. Pernyataan tersebut menggambarkan betapa pentingnya kedudukan adab di dalam islam, oleh sebab itu, para ulama-ulama terdahulu sebelum mempelajari ilmu pengetahuan terlebih dahulu mempelajari adad agar mencegah diri dalam melakukan perbuatan tercela atau keji termasuk di media sosial dengan nada ancaman pembunuhan (halalkan darah).

Mungkin seorang AP Hasanuddin yang memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi, hatinya sedang dikuasai oleh amarah dan ditambah dengan tidak ikhlas dalam menerima perbedaan sehingga berpengaruh terhadap kejernihan dalam berpikir.
Baca Juga :  Part 4 - Pendidikan Karakter di Tempat Kerja
  • Bagikan