Topik : 

Gerakan Muhammadiyah: Latar Belakang dan Identitas, Bagian Ketiga

Reporter : Jailani Tong Editor: Redaksi
DelikNTT.com
Gambar Cover 12
Gambar: KH. Ahmad Dahlan, Pendiri Muhammadiyah

DelikNTT.Com –  Setelah dari tanah suci Makkah, Dahlan melanjutkan kegiatan sebagai mana sebelumnya, sebagai khatib dan mengajar mengaji di rumah. Santri Dahlan juga semakin banyak, yang berasal dari Yogyakarta dan sekitarnya. Namun, ada perbedaan yang menarik menyangkut referensi Dahlan antara sebelum dan sesudah haji yang kedua. Sebelum naik haji yang kedua kitab-kitab yang dipelajari Dahlan sama dengan kitab-kitab yang dipelajari kebanyakan ulama Indonesia dan di Makkah, yakni kitab- kitab yang beraliran ahl al-sunnah wa al-jama’ah dalam bidang aga’id, kitab-kitab dari madzhab al-Syafi’i dalam bidang figh dan kitab-kitab Imam al-Ghazali dalam bidang lashawwuf. Setelah naik haji kedua ini kitab-kitab yang dibaca dan banyak menjadi rujukan Dahlan, antara lain Tafsir al-Manår (Rasyid Ridla), Kitab al-Tawhid, Tafsir Juz Amma dan Al-Islam wa al-Nashraniyah (Muhammad Abduh), Kanz al-‘Ulûm (Ibn Tumart), Da’irat al-Ma’arif (Farid Wajdi), Idhhar al-Haqq (Rahamatullah al-Hindi), Al- Tawassul wa al-Wasilah (Ibn Taymiyah), kitab-kitab Ibn Taymiyah lainnya yang banyak mengupas hal-hal yang bid’ah, Majalah al-Manar dan al-Urwat al-Wutsqa, kitab- kitab hadits karya ‘Ulama Madzhab Hanbali, dan lain- lain. Tampaknya pemikiran Ibn Taymiyah dan Muhammad Abduh mendapat tempat istimewa di hati Dahlan.

Ibn Taymiyah (w. 728 H / 1328 M) adalah tokoh progresif dari Damaskus pada awal abad ke-8 H/14 M. la menyerukan agar umat Islam kembali kepada Al-Qur’an dan al-sunnali dan terbukannya pintu ijtihad. Konsekwensinya, ia mengecam segala tindakan taklid dan berbagai tradisi yang dianggapnya telah menyimpang. Meskipun Ibn Taymiyah tidak berhasil menciptakan gerakan yang luas, tetapi ide-idenya meresap dan mempengaruhi sejarah intelektual Islam berikutnya. Perjuangan Ibn Taymiyah untuk melepaskan diri dari otoritas tradisi, sebagaimana yang tersimpul pada seruannya untuk membuka kembali pintu ijtihad dan kritik-kritik pedasnya kepada hampir semua sistem pemahaman keagamaan yang mapan, telah memberi inspirasi bagi banyak pandangan yang liberal perbagai gerakan Islam modernis. Sebaliknya, tekanannya pada pemahaman harfiah atas sumber-sumber agama telah Menjadi bahan rujukan bagi berbagai gerakan Islam yang berkecenderungan literalis dan fundamentalis pada abad ke-12 H / 18 M, di Saudi Arabia lahir gerakan Wahabi gerakan yang disandarkan kepada Muhammad b. ‘Abdal. Wahhab) dengan kecenderungan puritanis. Fazlurrahman menyebut gerakan Wahabi sebagai satu-satunya manifestasi atau manifestasi paling terorganisir dari pemikiran-pemikiran Ibn Taymiyah.

  • Bagikan