Dalam isi surat tersebut, Bi Sonbai menentang keras opperhoofd Reynier Leers (1712-1714) dalam bersikap dan berperilaku yang tidak sopan terhadap rakyatnya dan tata kelola jagung. Bi Sonbai juga mengancam Gubernur Jenderal dan dewannya di Batavia bahwa jika opperhoofd Reynier Leers tinggal di sini lebih lama lagi, maka pada tahun depan (jika Gubernur Jendral mengizinkan), Bi Sonbai akan berangkat ke Batavia dengan menggunakan kapal VOC dengan biayanya sendiri untuk memberikan laporan lisan secara langsung. Namun jika Gubernur Jendral tidak mengizinkan, maka Bi Sonbai akan tetap berangkat ke Batavia dengan menggunakan kapal Cina.
Dampak dari surat Bi Sonbai kepada Gubernur Jenderal di Batavia membuat posisi atau jabatan opperhoofd Reynier Leers di Kupang terancam. Pada suatu malam di akhir September 1713 di kamarnya di Fort Concordia, Leers yang putus asa membuat surat kepada Gubernur Jenderal di Batavia, di mana ia menghukum rekan senegaranya: komandan kedua dan sersan itu berkeliaran di tanah Kupang dan mendapat cemoohan penduduk setempat, neraca ekonomi harus disusun oleh Leers sendiri, dan seterusnya. Leers meminta kepada Gubernur Jenderal agar posisinya sebagai opperhoofd tetap dipertahankan, tetapi ternyata tidak berhasil. Para anggota dewan menolak menandatangani laporan opperhoofd Reynier Leers kepada Gubernur Jenderal di Batavia. Dia dianggap telah salah mengatur konflik dengan Topas (Portugis Hitam) dan bersamaan dengan keluhan Bi Sonbai sebagai sekutu VOC. Pada tahun 1714, opperhoofd Reynier Leers diganti dengan opperhoofd Isaac Marmer.
Bi Sonbai adalah contoh dari simbol Ratu yang memiliki jiwa kepemimpinan (leadership). Dalam segala upaya untuk menyelesaikan sebuah persoalan selalu ditempuh dengan jalur diplomasi. Dalam beberapa memorandum VOC mencatat bahwa Bi Sonbai jarang mengambil sikap aktif, tetapi lebih memungkinkan urusan pemerintahan di handel oleh klan Oematan. Akan tetapi, pada saat tertentu ketika Bi Sonbai berbicara, suaranya bagaikan petir yang dapat mematikan. Dalam kasus opperhoofd Reynier Leers dan Tata Kelola Jagung, Gubernur Jenderal di Batavia dapat memahami posisi Bi Sonbai di mana Bi Sonbai menjadi harapan satu-satunya dari rakyatnya untuk menyelesaikan kasus tersebut disaat semua cara atau jalan yang ditempuh tanpa kekerasan telah dilakukan. Melalui jalur diplomasi yang di tempuh oleh Bi Sonbai, Batavia memberikan penghormatan yang sangat besar kepada Bi Sonbai.
Bi Sonbai tidak menikah, walaupun pernikahan merupakan suatu hal yang universal. Bi Sonbai sebagai Ratu kerajaan Sonbai Kecil tetap menjaga agar kemurnian keturunannya yang menduduki dinasti Sonbai tetap terjaga dan terpelihara. Bi Sulla Sonbai menikah dengan Saroro penguasa Amabi, sedangkan Bi Aulais Sonbai tidak diketahui dengan siapa dia menikah. Setelah kematian Bi Sonbai pada tahun 1717, posisinya digantikan oleh Bernadus Leu atau dalam beberapa dokumen ditulis dengan Bernardus de Leeuw yang merupakan putra dari Nai Neno Sonbai (Dom Pedro Tomenu) dari kerajaan Sonbai Besar (Greater Sonbai).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp DelikNTT.COM
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.





