Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Topik : 

Diplomasi Sebagai Jalur Pejuangan Tanpa Kekerasan Oleh Bi Sonbai atau Nontje Sonbai (Usif Tetu Utang)

Reporter : Jailani Editor: Redaksi
images

Ketika opperhoofd Joannes van Alphen mengunjungi wilayah pemukiman Taebenu pada bulan September 1705, Opperhoofd menemukan bahwa penduduk Taebenu dipersenjatai dengan senapan, pedang, panah, tombak dan alat perang lainnya. Para pemimpin Taebenu menyambut opperhoofd dan meminta untuk duduk bersama mereka. Pemimpin Taebenu bercerita kepada opperhoofd bahwa orang-orang Sonbai telah menghina mereka dengan memenggal kepala seorang pria Taebenu. Karena kepala telah diambil oleh orang-orang Sonbai, bagaimanapun perlakuan ritualnya menurut adat mereka, menunjukkan kurangnya rasa hormat, cemoohan dan cedera yang besar bagi orang-orang Taebenu. Karena itu mereka sekarang ingin membalas dendam kepada orang-orang Sonbai.

Opperhoofd Joannes van Alphen berjanji kepada mereka untuk memfasilitasi penyelesaian persoalan ini, namun harus menunggu klarifikasi yang akan disampaikan oleh pihak Sonbai pada keesokan harinya. Namun begitu Opperhoofd pergi, janji itu segera dilanggar, dan pemukiman Sonbai diserang. Karena orang-orang Sonbai jauh lebih kuat dalam hal pasukan perang, orang-orang Sonbai mampu mengusir orang-orang Taebenu dan mengejar mereka sampai ke pemukiman mereka.

Scroll kebawah untuk lihat konten
WhatsApp Image 2025 05 31 at 18.15.04
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Ketika opperhoofd Joannes van Alphen mendengar tentang keributan ini, opperhoofd bersama pegawainya segera menaiki kuda dan berlari kembali ke pemukiman Taebenu, di mana ia bertemu dengan pemandangan yang mengerikan. Lebih dari 20 mayat dimutilasi, terutama wanita dan anak-anak, terbaring berserakan di pemukiman terpencil. Tiga pegawai Belanda datang menemui Ratu Bi Sonbai dan memintanya untuk memerintahkan rakyatnya untuk berhenti bertikai sebab jika pertikaian tersebut terus berlangsung dapat membawa kehancuran bagi seluruh sekutu yang berada dalam lingkup VOC. Dengan Bahasa diplomasi, Bi Sonbai mengatakan kepada tiga pegawai Belanda tersebut bahwa saya hanyalah symbol harafiah dari penguasa Sonbai Kecil, bagaimana saya bisa meredam pertikaian tersebut yang didasari oleh rasa tidak hormat antara kedua belah pihak?. Namun walaupun saya hanya sebagai symbol, saya tetap mendukung upaya van Alphen untuk melerai pertikaian tersebut, maka berangkat Bi Sonbai dan tiga pegawai Belanda ke lokasi. Setibanya di lokasi pertikaian, orang-orang Sonbai melihat Bi Sonbai berdiri diantara orang-orang Belanda, dan dengan seketika itu mereka membubarkan diri.

Baca Juga :  Harmoni Multikultural: Toleransi Umat Beragama di Kupang - Bagian Ketiga

Semenjak memasuki usia dewasa, Bi Sonbai yang selama ini hanya dikenal sebagai symbol dari kerajaan Sonbai Kecil mulai menunjukkan jiwa kepemimpinannya sebagai seorang Ratu. Pada tahun 1713, Bi Sonbai menulis surat terbuka kepada Gubernur Jenderal dan dewannya di Batavia. Surat ini ini didasari pada rasa keprihatinan terhadap rakyatnya yang menderita akibat tata kelola jagung oleh VOC dimana ketika pada saat musim panen, rakyat diwajibkan menjual biji jagung kepada VOC seharga 9 stuyver per 40 pound namun ketika rakyat harus membeli biji jagung untuk makan sehari-hari, VOC menjualnya seharga 18 stuyver per 40 pound.

Disclaimer:
Artikel Ini Merupakan Kerja Sama DelikNTT.Com Dengan Sonny Pellokila. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Sonny Pellokila.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp DelikNTT.COM

+ Gabung

  • Bagikan