Topik : 

Bermuhammadiyah Jangan Jubriya

Kontributor : As'ad Bukhari Editor: Jailani Tong
DelikNTT.com
Gambar Cover 12
Gambar: KH. Ahmad Dahlan, Pendiri Muhammadiyah

Oleh : As’ad Bukhari, S.Sos., MA.

(Alumni Pendidikan Intensif Muballigh Muda Berkemajuan)

DelikNTT.Com – Persyarikatan Muhammadiyah adalah organisasi islam modern yang paling cepat pertumbuhan dan perkembangannya dari segi aset, pembangunan dan usaha. Muhammadiyah memasuki abad keduanya tentu masih banyak hal yang belum mampu diwujudkan tergantung situasi dan kondisi pimpinan Muhammadiyah di daerahnya masing-masing. Akan tetapi secara garis besar Persyarikatan Muhammadiyah telah banyak melalui dinamika kebangsaan baik dari sistem pemerintahan sejak Hindia Belanda, baik pergantian pemimpin presiden, baik dari gejolak virus dunia, sampai pada situasi bencana alam yang melanda. Ini membuat kader Muhammadiyah sebagian besar telah banyak mengabdi dan berkerja setulus hati, namun juga ada sebagian kecil dengan motif keangkuhan diri lagi arogansi berorganisasi.

Sebuah pesan nasihat dan petuah hasanah dari Kiyai Ahmad Dahlan yakni jangan sesekali kamu menduakan pandangan Muhammadiyah dengan perkumpulan lainnya. Jangan sentimen, jangan sakit hati kalau menerima celaan dan kritikan. Jangan sombong, jangan berbesar hati kalau menerima pujian. Jangan Jubriya (Ngujub – Kibir dan Riya’). Dengan ikhlas murni hatinya, kalau sedang berkembang harta, pikiran dan tenaga. Harus bersungguh-sungguh hati dan tetap tegak pendiriannya (jangan was-was), itulah pesan otentik dan futuristik dari KH. Ahmad Dahlan sebagai Pendiri Muhammadiyah. Seolah-olah sudah dapat memprediksi dan menggambarkan bahwa kelak warga Muhammadiyah baik pimpinan, kader, pekerja, pelopor, perintis, dan warganya akan mengalami penyakit jubriya.

Bermuhammadiyah jangan jubriya dengan merasa paling berjasa, paling banyak berbuat, paling hebat, paling mampu mengurusi, paling kuat menjalani dan lain sebagainya. Ujub yang dapat diartikan sebagai sombong, tinggi hati, berbangga diri dan besar kepala yang terlihat secara terang-terangan zohir atau tersurat sehingga Bermuhammadiyah hanya bertujuan selalu merasa paling hebat daripada yang lain.

Baca Juga :  Politik, Agama, dan Kekerasan
  • Bagikan