Topik : 

Berislam Melalui Muhammadiyah dan IMM

Kontributor : Siti Aulia Rahma Editor: Jailani Tong
DelikNTT.com
WhatsApp Image 2023 08 29 at 12.25.13
Foto: Siti Aulia Rahma / Wakil Ketua PWNA NTT / Mantan Kabid IMMawati Kalsel/ Guru SDIT Almuttaqien Kupang

DelikNTT.Com – Islam adalah satu-satunya agama yang diridhai Allah dan mampu menyelamatkan manusia di dunia mauapun di akhirat.  Sebagai umat muslim, tentu mengetahui dan meyakini tanpa ada sekitikpun keraguan di dalam dada.  Hal ini juga telah ditegaskan  melalui  firman-Nya.

Sesungguhnya dien (agama) yang diridhai Allah hanyalah Islam.” (Q.S. 3:19)

Dan siapa saja yang memeluk agama selain Islam, tidak akan diterima (oleh Allah) dan dia termasuk orang-orang yang merugi di akhirat nanti.” (Q.S. 3:85)

Pada hari ini Aku telah sempurnakan agamamu (Islam) dan Aku telah melimpahkan nikmat-Ku padamu, dan Aku ridha Islam sebagai agamamu.” (Q.S. 5:3).

Namun terkadang, disebabkan karena kita berislam karena faktor keturunan, sehingga tidak dapat memahami dengan benar bagaimana berislam yang sesungguhnya. Bahkan, tidak sedikit di antar umat muslim yang tak mengetahui pengertian dari Islam itu sendiri, mereka hanya tau saya beragama Islam, agama yang benar, dan inilah yang penulis pernah alami.

Beberapa perintah dalam islam, seperti shalat, puasa dan pengamalan lainnya diketahui, karena faktor orang tua melakukannya. Singkatnya, berislam karena karena faktor keturunan. Namun, tidak sedikit diantara mereka yang mau berusaha keras mempelajari Islam secara mendalam dengan berbagai cara dan berhasil berislam dengan ilmu.

Secara etimologi, kata “Islam” setidaknya ada empat kata yang saling berkaitan antara satu sama lain. Aslama, Artinya menyerahkan diri. Orang yang masuk Islam berarti menyerahkan diri kepada Allah SWT. Ia siap mematuhi ajaran-Nya.; Alima. Artinya selamat. Orang yang memeluk Islam, hidupnya akan selamat; Sallama. Artinya menyelamatkan orang lain.

Seorang pemeluk Islam tidak hanya menyelematkan diri sendiri, tetapi juga harus menyelamatkan orang lain (tugas dakwah atau ‘amar ma’ruf nahyi munkar); Salam. Aman, damai, sentosa. Kehidupan yang damai sentosa akan tercipta jika pemeluk Islam melaksanakan asalama dan sallama. Secara terminologis (istilah, maknawi) dapat dikatakan, Islam adalah agama wahyu berintikan tauhid atau keesaan Tuhan yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw sebagai utusan-Nya yang terakhir dan berlaku bagi seluruh manusia, di mana pun dan kapan pun, yang ajarannya meliputi seluruh aspek kehidupan manusia.

Baca Juga :  Tidak Banyak Bicara, Muhammadiyah Kembali Salurkan Bantuan 13 Miliar untuk Palestina

Karena sesungguhnya Islam berarati selamat, damai dan ketenangan, seharusnya tidak ada umat Islam yang bersedih hati, merasa resah dengan kehidupan sosial yang mereka jalani, seperti yang tampak di negeri pertiwi. Begitu banyak ritual yang dilabelkan sebagai bagian dari cara berislam yang begitu mengekang dan menyusahkan.

Melihat keadaan umat Islam pada waktu itu dalam keadaan jumud, beku dan penuh dengan amalan-amalan yang bersifat mistik, membuat seorang putera keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga K.H. Abu Bakar yang notabene adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa itu, membuat Muhammad Darwisy (nama kecil K.H. Ahmad Dahlan) tergerak hatinya untuk mengajak mereka kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya berdasarkan Qur`an dan Hadist.

Pada Tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H atau bertepatan dengan tanggal 18 November 1912 M, Ahamd Dahlan mendirikan Muhammadiyah sebagai wadah untuk berjuang atas nama agama dan kemanusiaan.

Muhammadiyah secara bahasa berarti pengikut Nabi Muhammad. Sedangkan, penggunaan kata Muhammadiyah dimaksudkan untuk menisbahkan (menghubungkan) dengan ajaran dan jejak perjuangan Nabi Muhammad SAW. Bahwa Rasul tidak hanya berislam dengan ritual keagamaan, beliau berislam dalam seluruh aspek kehidupan, sejak beliau bangun tidur hingga tidur lagi. Karena pada hakikatnya Islam adalah keselamatan dan kedamaian serta penyerahan diri, maka berislam haruslah menyerahkan diri sepenuh kepada-Nya demi mencapai keselamatan dan kedamaian, baik di dunia maupun akhirat.

Bagaimana mungkin, umat islam di Indonesia mampu memperoleh keselamatan tersebut, jika umat Islam tidak memegang teguh tuntunan Al-Quran dan Sunnah Nabi, sehingga menyebabkan merajalelanya syirik, bid’ah, khurafat, jamud, dan ta’asub yang mengakibatkan umat Islam menjadi tidak terhormat dalam masyarakat, demikian pula agama Islam, tidak memancarkan sinar kemurniannya lagi. Di samping itu, ketiadaan persatuan dan kesatuan di antara umat Islam, akibat dari tidak tegaknya ukhuwah Islamiyah serta ketiadaan suatu organisasi yang kuat; Umat Islam kebanyakan hidup dalam alam fanatisme yang sempit, bertaklid buta serta berpikir secara dogmatis, berada dalam konservatisme, formalisme, dan tradisionalisme.

Baca Juga :  MTs.S An-Nur Wowong Hadirkan Tokoh Penting Kecamatan, Kabupaten dan Pusat dalam Semarak Maulid Nabi

Beberapahal di atas, akhirnya menjadi penyebab merajalelanya kemiskinan, kebodohan, kekolotan, kemunduran bangsa Indonesia pada umumnya dan umat islam khususnya dan kegagalan dari sebagian lembaga-lembaga pendidikan Islam dalam memproduksi kader-kader yang dapat memenuhi tuntutan zaman. Inilah yang akhirnya, menjadi salah satu faktor lahirnya sekaligus tujuan pergerakan Muhammadiyah untuk mengembalikan hakikat Islam sebagai agama yang menyelamatkan umatnya dan itu hanya akan didapatkan, jika umatnya berislam dengan benar.

Muhammadiyah terbentuk sebagai wadah untuk umat muslim mampu berislam sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan Sunnah, yang tidak hanya sebatas aplikasi iman dalam ritual, namun juga dalam sosial, tidak hanya bagaimana berhubungan dengan Tuhan, namun juga dalam kehidupan. Dengan demikian, umat Islam akan selamat dan saling menyelamatkan dengan menyerahkan seluruh hidupnya kepada Allah hingga tercapailah keselamatan, keamanan dan kedamaian dalam kehidupan umat Islam.

Untuk mewujudkan cita-cita dan merefleksikan ideologinya, maka Muhammadiyah mesti bersinggungan dan berinteraksi dengan berbagai lapisan dan golongan masyarakat yang majemuk, mulai dari petani, pedagang, birokrat, intelektual, profesional, dan juga mahasiswa. Interaksi dan persinggungan Muhammadiyah dengan mahasiswa menjadi sangat penting, hal ini dimaksudkan agar tercapai maksud dan tujuan Muhamadiyah itu sendiri. Salah satu cara dan strateginya yaitu tidak secara langsung terjun mendakwahi dan memengaruhinya di kampus-kampus perguruan tinggi, tetapi dengan cara menyediakan dan membentuk wadah khusus yang bisa menarik animo dan mengembangkan potensi mahasiswa.

Anggapan mengenai pentingnya wadah bagi mahasiswa tersebut lahir pada saat Muktamar ke-25 Muhammadiyah (Kongres Seperempat Abad Kelahiran Muhammdiyah) pada tahun 1936 di Jakarta. Pada kesempatan itu, dicetuskan pula cita-cita besar Muhammadiyah untuk mendidirkan universitas atau perguruan tinggi Muhammadiyah. Inilah yang menjadi faktor internal terbentuknya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah untuk mewadahi mahasiswa muhammadiyah sehingga tercapai tujuan dan cita-cita Muhammadiyah yaitu menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, melalui perguruan tinggi Muhammadiyah.

Baca Juga :  Puisi: Ssseeetttt

Sementara itu, situasi dan kondisi kehidupan di luar dan di sekitar Muhammadiyah yang  bertalian dengan keadaan umat Islam, kehidupan berbangsa dan bernegara, serta dinamika gerakan mahasiswa menjadi faktor eksternal berdirinya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Hingga kelahirannya, memunculkan trilogi yang menjadi langkah gerak kader – kader ikatan dan dikembangkan untuk menjadi pelopor dalam berbagai lini masyarakat dan umat.

Dengan trilogi ini, diharapkan seluruh kader ikatan mampu menjadi mahasiswa islam yang sempurna yaitu mahasiswa taat dalam beragama, memiliki kemampuan intelektual dan juga humanis. Oleh karena itu, marilah kita berislam yang benar melalui Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang terlahir dari idelogi Muhammadiyah.

Dengan kemampuan yang ada di dalam triloginya, kita mampu memberikan warna dalam kehidupan sosialnya, bukan sebaliknya, yaitu diwarnai dengan pemahaman dan ideologi yang bertentangan dengan konsep Muhammadiyah dan juga konsep bernegara.
Penulis: Siti Aulia Rahma / Wakil Ketua PWNA NTT / Mantan Kabid IMMawati Kalsel/ Guru SDIT Almuttaqien Kupang
  • Bagikan