Topik : 

WANTED CUP V: Dari Sepak Bola Kolonial menjadi Sepak Bola Millenial

Kontributor : JT Editor: Redaksi
DelikNTT.com
1000399646
Foto: Rektor UMK menyerahkan piala

Oleh: Amirullah Datuk, S.Pd. M.Pd

Dosen Pendidikan Sosiologi UNMUH Kupang

Berlabuh 1 Tahun di lemari Intelektual kampus Multikultural Universitas Muhammadiyah Kupang, kampus sang Juara, kini Piala Bergilir Wanted siap diperebutkan kembali di pulau Semburan Paus.

Simbolisasi keberagaman warga Lembata dalam sebuah hajatan akan selalu disandingkan dengan sebuah kearifan lokal dengan pemukulan Gong Gendang (kong bawa) diiringi dengan Sole Oha, Hedung Huriq serta Namang Awulolong dilanjutkan Peluit kick of bertanda sepak bola Wanted Cup V siap direbutkan kembali.

Perhelatan Wanted Cup V telah mengalami satu gelombang kebaikan bagi sepakbola di tanah semburan paus Lembata. Momentum inilah menjadi satu embrio kompetisi ditingkat Lokal yang memberikan edukasi tentang konsep sepakbola Moderen yakni tahu cara meraih prestasi dan tahu cara mempermainkan si kulit bundar sebagai sebuah hiburan yang tidak membosankan. Sebab Sepakbola telah menjadi cabang olahraga yang paling menarik hati di seantero bumi.  

Olahraga ini bisa dimainkan dan dinikmati oleh siapapun, dimanapun, dan kapanpun dengan cara amat sederhana. Dengan realitas demikian pantaslah dikatakan sepakbola sebagai suatu bahasa universal, sepakbola bisa menjadi ajang penemuan cinta, sumber kehidupan, sebab sepakbola bukan sekedar hobi namun menjadi pekerjaan professional, bahkan dalam konteks global adalah bahasa pemersatu yang dapat merekatkan persaudaraan kehidupan antar warga masyarakat Lamaholot, masyarakat Flobamora bahkan Bangsa Indonesia.  

Wanted Cup V tidak ada Messi, Cristiano Ronaldo, Neymar, Mbappe, bahkan pemain Top dunia lainya, bahkan juga tidak ada juri kunci pengatur strategi dipinggir lapangan sekelas Xavi, Carlo Ancelotti, Jurgen Klopp, bahkan Shin Tae-yong namun tensinya akan terus panas, sepanas semburan gunung Ile Lewotolok, tetap panas seperti air panas Atedei dan air panas di desa Leuwayan, terus gantungkan kemenangan setinggi Gunung Uyelewun, namun tetap berhati-hati agar tidak tenggelam di arus Watawoko. Namun menjadi harapan akan lahir bibit-bibit baru dan juru taktik dari rahim sepakbola Wanted Cup V ini. Semoga. 

Baca Juga :  MIN 1 Lembata Sabet 3 Juara Sekaligus dalam Acara Perayaan Hari Besar Islam

Dalam mewujudkan ini semua kita membutuhkan sebuah komitmen bersama mengenai perhelatan Wanted Cup V tahun 2023 yang bebas dari intervensi apapun. Urusan sepakbola tidak bisa dan jangan sampai menjadi alat-alat politis yang kental akan kepentingan-kepentingan jahat para sekelompok maupun individu haus kuasa. Sepakbola bukanlah menjadi olahraga kuasa menguasai, namun sepakbola berkaitan dengan bagaimana kita berusaha menyatukan kemajemukan kita bersama melalui sebuah kompetisi yang sehat, kompetitif tanpa mengabaikan nilai-nilai sportifitas.

Pada intinya tidak diperkenankan hasrat kuasa mendominasi untuk menciderai dan memporak-porandakan agenda sepakbola Wanted Cup V ini, sebab Wanted Cup V menjadi tahta sepakbola terhormat di tanah Lembata perlu bersama kita menjaga agar tidak ternoda oleh kepentingan apapun. Poinnya adalah, para pemain tetap menjunjung tinggi Fair Play, para suporter menjaga Nilai-nilai sportifitas, panitia dan wasit menjaga Netralitas dalam pengambilan Keputusan

  • Bagikan