Acara yang berlangsung penuh semangat ini diawali dengan penampilan seni tari tradisional dari kabupaten Lembata yang memukau para hadirin, sebagai simbol kuat pelestarian budaya di tengah derasnya globalisasi.
Ketua Umum Imles, Tamsil Lukman dalam sambutannya mengatakan kegiatan diskusi publik ini bukan hanya untuk sekedar bertukar pikiran, akan tetapi sebagai langka awal untuk mediskripsikan budaya lembata.
“Ke depan kami akan terus berbagi pikiran dan membangun kemitraan guna menindaklanjuti diskusi ini mungkin dalam bentuk ivent ataupun expo budaya.” kata Tamsil.
Dr. Ali Martin selaku bembicara pertama kemudian mengulas perkembangan globalisasi tak hanya membawa manfaat. Ia juga menantang eksistensi budaya lokal yang telah lama menjadi identitas bangsa. Maka, pentingnya oragnaisasi daerah giat menghidupkan kembali budaya daerahnya.
“Dengan demikian, globalisasi dan kebudayaan bukanlah dua kutub yang saling meniadakan, melainkan bisa saling menguatkan,” ucap Ali.
Semetara Panji Bumiputera, manjabarkan media memiliki peran dalam menampilkan dan melestarikan budaya, globalisasi yang serba cepat ini. Ia bukan hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai jembatan antara masa lalu dan masa kini.
“Melalui media, budaya lokal yang mungkin sebelumnya hanya dikenal di lingkup terbatas kini bisa menjangkau lebih luas. Dengan pendekatan yang menarik dan mudah diakses, budaya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar tontonan seremonial,” jelas Panji.
Pemateri lain, Grania Lamaking memberikan materinya dengan pendekatan perempuan dalam menjaga budaya di tengah arus globalisasi misalnya, mejaga adap, etika dan nilai-nilai budaya sebagai pengguna media sosial.
“Perempuan sebagai pengguna media sosial memiliki kekuatan besar untuk menjaga nilai tradisi bahkan mempromosikan tradisi lokal yang relavan,” imbuhnya.
Sedangkan, Iksan salang sebagai pemateri keempat menjelaskan orda menjadi garda terdepan dalam menjaga keseimbangan antara kemajuan global dan kebutuhan lokal sebagai penguat identitas, penggerak pembangunan, dan penjaga nilai-nilai lokal.
Dia lantas menegaskan, menjadi mahasiwa harus memiliki integritas kecerdasan intelktual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual untuk menjaga keseimbangan antara budaya dan modernitas.
“Ketiga kecerdasan ini membentuk individu yang tidak hanya cerdas dan produktif, tetapi juga berakar kuat pada budayanya dan terbuka terhadap dunia,” jelas Iksan.
Acara diakhiri dengan penampilan tarian dolo bersama oleh seluruh tamu undangan sekaligus audiens aktif, menciptakan suasana kebersamaan dan merayakan keberagaman budaya secara langsung.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp DelikNTT.COM
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








