Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Topik : 

Bolehkah Umat Islam Merayakan Tahun Baru? Simak Pandangan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir

Reporter : Jailani Editor: Redaksi
Prof. Haedar Nashir
Gambar: Prof. Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah

KUPANG, DELIKNTT.COM – Pergantian tahun baru Masehi 2024 semakin dekat.Peristiwa ini sering menjadi momen yang dinantikan oleh banyak orang sebagai kesempatan untuk merenungkan dan melakukan evaluasi diri. Namun, bagi umat Islam , sering kali muncul pertanyaan: bolehkah merayakan tahun baru Masehi?

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, memberikan perspektif yang seimbang mengenai hal ini. Menurut Haedar, umat Islam mengenal dua pergantian tahun yang penting, yaitu tahun Hijriyah yang dimulai pada 1 Muharram dan tahun Masehi yang dirayakan pada akhir Desember.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website?  Klik Disini!!!

“Tidak ada pertentangan antara kalender Hijriyah dan Masehi, karena keduanya memiliki fungsi yang berbeda. Kalender Masehi digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti transaksi ekonomi, sedangkan kalender Hijriyah lebih banyak digunakan untuk penentuan ibadah, seperti Idul Fitri dan Idul Adha,” jelas Haedar dalam Refleksi AkhirTahun di Bantul pada tahun lalu.

Haedar menegaskan bahwa tahun baru dapat dianggap sebagai kesempatan untuk introspeksi diri. Perayaan sederhana yang penuh makna, seperti syiar atau bertemu teman, diperbolehkan selama tidak berlebihan.

“Merayakan tahun baru tidak salah, janji dilakukan dengan bijak. Syiar, kegembiraan, dan kebahagiaan merupakan bagian dari hak manusia, namun tidak boleh berlebihan hingga melampaui batas agama dan moral,” ujarnya.

Peringatan yang diberikan oleh Haedar juga tekanan untuk menghindari pentingnya perayaan yang hanya bersifat lahiriah dan konsumtif. Aktivitas yang mengarah pada pemborosan, baik waktu, uang, maupun energi, sebaiknya dihindari. Sebaliknya, setiap momen pergantian tahun harus memberi makna dan manfaat bagi diri sendiri serta lingkungan.

“Yang penting adalah memberi makna pada setiap langkah hidup kita, bukan sekedar bersenang-senang tanpa tujuan,” imbuh Haedar.

  • Bagikan